Senin, 19 Januari 2009

Metafisika dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan


“Filsafat, betapapun spekulatifnya, memberi kita berbagai penjelasan tentang misteri puncak (the ultimate mystery) ini. Filsafat ... mengajari kita tentang proses penciptaan, tentang hierarki wujud (hierarchy of being), tentang alam semesta dan posisi manusia di dalamnya, tentang tujuan-hidupnya, dan berbagai pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti ini”

Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, Mizan, Jakarta, 2005, hlm. 72.

Tentang Metafisika

Seringkali ketika mendengarkan istilah “metafisika” sudah terdapat dalam persepsi awal kita mengenai hal-hal yang bersifat supranatural seperti ilmu-ilmu perdukunan dan mental-spiritual. Persepsi tersebut sebenarnya tidak dapat disalahkan, karena dalam arena perebutan makna sebuah istilah, maka sebuah istilah –termasuk “metafisika”- seiring perubahan waktu dalam konteks sosio-historis jelas mengalami pergeseran makna yang digunakan oleh masyarakat, terutama masyarakat awam. Memang hal-hal supranatural juga termasuk atau tercakup dalam “definisi” metafisika, namun metafisika tidak dapat diartikan sepenuhnya adalah mengenai supranatural, kian lama agaknya definisi metafisika tidak menunjuk pada objek definitif yang diwakilinya. Hal yang sama seperti ketika sekarang dalam mempelajari filsafat lebih familiar diketahui adanya ontologi, epistemologi, dan aksiologi sebagai “batang tubuh” atau elemen-elemen fundamental kajian filsafat, dan seakan melupakan metafisika. Lalu apa sebenarnya metafisika, di mana posisinya dalam filsafat, dan apa kegunaannya?

Pada mulanya istilah “metafisika” digunakan di Yunani untuk merujuk pada karya-karya tertentu Aristoteles (384-322 SM). Namun sebenarnya istilah “metafisika” bukanlah dari Aristoteles, “metafisika” oleh Aristoteles disebut sebagai “filsafat pertama” atau “theologia”, dalam pandangan Aristoteles, metafisika belum begitu jelas dibedakan dengan fisika.[1] Secara etimologis, “metafisika” berasal dari bahasa Yunani, meta ta fisika yang artinya menurut Louis O. Katsoff adalah “hal-hal yang terdapat sesudah fisika”.[2] Aristoteles mendefinisikannya sebagai ilmu pengetahuan mengenai yang-ada sebagai yang-ada, yang dilawankan misalnya dengan yang-ada sebagai yang-digerakkan atau yang-ada sebagai yang-jumlahkan.[3] Pada masa sekarang, metafisika dipahami sebagai bagian dari filsafat yang mempelajari dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan terdalam tentang hakikat segala sesuatu. Pertanyaan-pertanyaan filosofis tersebut membahas dan tertuju pada beberapa konsep metafisik, dengan kata lain yang lebih tepat agaknya adalah, konsep-konsep di luar hal-hal yang bersifat fisik

Menurut Cristian Wolf (1679-1754), metafisika terbagi menjadi dua jenis. Pertama, metafisika generalis, yakni ilmu yang membahas mengenai yang ada atau pengada atau yang lebih dikenal sebagai ontologi, dan kedua, metafisika spesialis yang terbagi menjadi tiga bagian besar, (1) antropologi, yang menelaah mengenai hakikat manusia, tentang diri dan kedirian, tentang hubungan jiwa dan raga, (2) kosmologi, yang membahas asal-usul alam semesta dan hakikat sebenarnya, dan (3) teologi, membahas mengenai Tuhan secara rasional. Sementara itu Driyarkara menyamakan metafisika dengan ontologi, ia menyatakan bahwa filsafat tentang ada dan sebab-sebab pertama adalah metafisika atau ontologi, yang di samping membahas tentang ada dan sebab-sebab pertama tersebut, juga membahas mengenai apakah kesempurnaan itu, apakah tujuan, apakah sebab-akibat, apa yang merupakan dasar yang terdalam dalam setiap barang yang ada (hylemorfism), intinya adalah, apakah hakikat dari segala sesuatu itu.[4]

Bahasan yang terdapat dalam metafisika secara umum antara lain meliputi, (1) yang-ada (being), (2) kenyataan (reality), (3) eksistensi (existence), (4) esensi (essence), (5) substansi (substance), (6) materi (matter), (7) bentuk (form), (8) perubahan (change), (9) sebab-akibat (causality), dan (10) hubungan (relation).[5] Salah satu contoh penalaran metafisika tentang Ada adalah yang pernah dilakukan oleh Plotinos sebagai seorang neo-platonis yang diperkirakan lahir di Mesir pada 204 atau 205 SM, dan hampir semua pengetahuan para filsuf tentang kehidupan dan pemikiran Plotinos didapatkan dari buku Vita Plotini yang ditulis oleh Porphyrius, salah seorang muridnya (232-305 SM).[6] Menurut Plotinos, suatu Ada yang sempurna itu tentu mewahyukan atau menyatakan dirinya sendiri dengan melahirkan Ada yang mirip kepadanya. Dalam pandangan ini seluruh kosmos atau semesta alam harus dipandang sebagai rantai, di mana bagian yang atas (lebih sempurna) melahirkan bagian bawahnya yang kalah sempurna. Yang berada paling atas adalah Hyang Eka, Yang Satu dan Satu-satunya, yang oleh Plotinos juga disebut “Kebaikan yang mutlak” dan “kebaikan yang memberi kebaikan kepada yang lain sebagai bagian”. Hyang Eka itu kemudian dipahami dan diyakini sebagai sesuatu yang menjadi dasar segala-galanya, tetapi tidak berdasar sendiri atas apapun juga.[7] Dalam penalaran Plotinos mengenai Ada (being) tersebut dapat dilihat bersentuhan juga dengan bahasan teologi, yang membahas Tuhan secara rasional (walaupun spekulatif).

Misal lainnya adalah perbincangan mengenai kenyataan (reality). Ketika pertanyaan mengenai hakikat terdalam dari kenyataan diajukan, maka muncul berbagai jawaban atasnya. Louis O. Kattsof (1996) dengan menyatakan terdapat beberapa aliran, antara lain adalah: pertama, realisme. Ia menyatakan bahwa terdapat hal-hal yang tidak bergantung pada pengetahuan dan bahwa hakikat hal-hal tersebut berbeda dari akal yang mengetahuinya, dengan kata lain alam di luar ide atau pengetahuan akal adalah hakikat kenyataan (reality). Realisme berkebalikan dengan idealisme, Kattsof (1996) menyatakan, terdapat hal-hal yang bereksistensi secara intrinsik berhubungan dengan perbuatan mengetahui, dan dalam babak terakhir sama hakikatnya dengan roh.[8] Jadi, misalnya, apakah sebuah meja yang ada di dalam kelas itu jelek atau tidak tergantung dari ide, persepsi, pengetahuan, akal kita dalam mengetahui meja tersebut, ini adalah pandangan idealisme yang sebetulnya lebih tepat disebut ideisme, namun terasa janggal. Sementara realisme menyatakan, jelek atau tidaknya meja di dalam kelas itu tidak tergantung pada pengetahuan kita atasnya, namun tergantung pada kenyataan atau realitas dirinya sendiri.

Kedua, naturalisme. William R. Dennes (1944) menyatakan bahwa naturalisme –modern- menyatakan bahwa hakikat kenyataan adalah bersifat kealaman, kategori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan adalah kejadian.[9] Kejadian-kejadian dalam ruang dan waktu merupakan satuan-satuan penyusun kenyataan yang ada, dan senantiasa dapat dialami oleh manusia biasa. Secara umum, naturalisme menyatakan alam ini adalah hakikat terdalam dari kenyataan. Di titik singgung inilah naturalisme yang menegaskan dunia-ini (alam kodrati) dilawankan dengan supernaturalisme yang menegaskan bahwa hakikat kenyataan yang sebenarnya adalah dunia-lain (adi kodrati). Supernaturalisme menganggap bahwa dunia-lain lebih tinggi dan berkuasa dibandingkan dunia-ini.

Animisne adalah salah satu contoh dari pemikiransupernaturalisme yang paling tua. Sementara itu dari rahim pandangan naturalisme lahirlah materialisme yang menganggap bahwa roh berasal dari materi, kaum materialisme menyatakan bahwa gejala-gejala alam disebabkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan dengan demikian dapat kita ketahui. Democritos (460-370 S.M.) adalah salah satu tokoh awal materialisme. Ia mengembangkan paham materialisme dan mengemukakan bahwa unsur dasar dari alam adalah atom. Democritos dengan demikian membedakan dirinya dari realisme dengan mengatakan bahwa obyek dari penginderaan sering dianggap nyata, padahal tidak demikian, hanya atom yang bersifat nyata. Jadi, panas, dingin, warna merupakan terminologi yang manusia berikan arti dari setiap gejala yang ditangkap oleh pancaindra. Dengan demikian, gejala alam dapat didekati dari proses kimia fisika. Pendapat ini merupakan pendapat kaum mekanistik, bahwa gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia fisika semata. Hal ini ditentang oleh kaum vitalistik, yang merupakan kelompok naturalisme juga. Paham vitalistik sepakat bahwa proses kimia fisika sebagai gejala alam dapat diterapkan, tetapi hanya meliputi unsur dan zat yang mati saja, tidak untuk makhluk hidup.

Metafisika dan Ilmu Pengetahaun

Metafisika ternyata mendapat penetangan dari beberapa ilmuwan, antara lain adalah yang menganut paham positivisme logis dengan menyatakan bahwa metafisika tidak bermakna. Alfred J. Ayer menyatakan bahwas sebagian besar perbincangan yang dilakukan oleh para filsuf sejak dahulu sesungguhnya tidak dapat dipertanggungjawabkan dan juga tidak ada gunanya. Problem yang diajukan dalam bidang metafisika adalah problem semu (pseudo-problems), artinya permasalahan yang tidak memungkinkan untuk dijawab.[10] Berkaitan dengan pendapat Ayer tersebut, Katsoff menyatakan bahwa agaknya Ayer berupaya untuk menunjukkan bahwa natutalisme, materialisme, dan lainnya merupakan pandangan yang sesat. Ayer menunjang argumentasinya dengan membuat criterion of verifiability atau keadaan dapat diverifikasi. Penentang lain Ludwig Wittgenstein menyatakan bahwa metafisika bersifat the Mystically, hal-hal yang tak dapat diungkapkan (inexpressible) ke dalam bahasa yang bersifat logis. Wittgenstein menyatakan terdapat tiga persoalan metafisika, (1) subjek, dikatakannya bukan merupakan dunia atau bagian dari dunia, melainkan lebih dapat dikatakan sebagai batas dari dunia, (2) kematian, kematian bukanlah sebuah peristiwa dalam kehidupan, manusia tidak hidup untuk mengalami pengalaman kematian, dan (3) Tuhan, Ia tidak menampakkan diri-Nya di dunia. Dengan demikian Wittgenstein menyimpulkan, bahwa sesuatu yang tidak dapat diungkapkan secara logis sebaiknya didiamkan saja” (What we cannot speak about, we must pass over in silence).

Namun pada kenyataannya banyak ilmuawan besar, terutama Albert Einstein, yang merasakan perlunya membuat formula konsepsi metafisika sebagai konsekuensi dari penemuan ilmiahnya. Manfaat metafisika bagi pengembangan ilmu dikatakan oleh Thomas Kuhn terletak pada awal terbentuknya paradigma ilmiah, yakni ketika kumpulan kepercayaan belum lengkap faktanya, maka ia mesti dipasok dari luar, antara lain adalah ilmu pengetahuan lain, peristiwa sejarah, pengalaman personal, dan metafisika. Misalnya adalah, upaya-upaya untuk memecahkan masalah yang tak dapat dipecahkan oleh paradigma keilmuan yang lama dan selama ini dianggap mampu memecahkan masalah membutuhkan paradigma baru, pemecahan masalah baru, hal ini hanya dapat dipenuhi dari hasil permenungan metafisik yang dalam banyak hal memang bersifat spekulatif dan intutitif, hingga dengan kedalaman kontemplasi serta imajinasi akan dapat membuka kemungkinan-kemungkinan (peluang-peluang) konsepsi teoritis, asumsi, postulat, tesis, dan paradigma baru untuk memecahkan masalah yang ada.[11]

Sumbangan metafisika terhadap ilmu pengetahuan tidak dapat disangkal lagi adalah pada fundamental ontologisnya. Sumbangan metafisika pada ilmu pengetahuan adalah persinggungan antara metafisika dan/atau ontologi dengan epistemologi. Dalam metafisika yang mempertanyakan, “apakah hakikat terdalam dari kenyataan?” yang di antaranya dijawab bahwa hakikat terdalam dari kenyataan adalah materi, maka muncullah paham materialisme. Sedangkan dalam epistemologi yang dimulai dari pertanyaan, “bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan?”, yang dijawab salah satunya oleh Descartes, bahwa kita memperoleh pengetahuan melalui akal, maka muncullah rasionalisme. John Locke yang menjawab pertanyaan tersebut bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman, maka ia telah melahirkan aliran empirisme, dan lainnya. Berbagai perdebatan dalam metafisika mengenai realitas, ada-tiada, dan lainnya sebagaimana telah dikemukakan di depan yang telah melahirkan berbagai pandangan yang berbeda satu sama lain secara otomatis juga melahirkan berbagai aliran pemahaman yang lazim dinyatakan sebagai aliran-aliran filsafat awal. Ketika pemahaman aliran-aliran filsafat tersebut dipertemukan dengan ranah epistemologis atau dihadapkan pada fenomena dinamika perkembangan ilmu pengetahuan akan menghasilkan percabangan disiplin ilmu baru (Kennick).

Metafisika menuntut orisinalitas berpikir yang biasanya muncul melalui kontemplasi atau intuisi berupa kilatan-kilatan mendadak akan sesuatu, hingga menjadikan para metafisikus menyodorkan cara berpikir yang cenderung subjektif dan mencipatakn terminologi filsafat yang khas. Situasi semacam ini dinyatakan oleh Van Peursen sangat diperlukan untuk pengembangan ilmu dalam rangka menerapkan heuristika. Berkaitan dengan pembentukan minat intelektual, maka metafisika mengajarkan mengenai cara berpikir yang serius dan mendalam tentang hakikat-hakikat segala sesuatu yang brersifat enigmatik, hingga pada akhirnya melahirkan sikap ingin tahu (need for curiosity) yang tinggi sebagaimana mestinya dimiliki oleh para intelektual. Metafisika mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama (first principle) sebagai kebenaran yang paling akhir, misalnya adalah kepastian ilmiah dalam metode skeptis Descartes, ia hanya dapat diperoleh jika kita bertitik tolak dari premis yang paling kuat (Cogito Ergo Sum).

Salah satu contoh sebuah karya yang mendasarkan pendapatnya dengan terlebih dahulu melalui penalaran metafisis adalah bukunya Yasraf Amir Piliang (2004), ia menyatakan, bahwa yang dihadapi sekarang bukanlah berhentinya pergerakan sosial-budaya sebagaimana dicirikan oleh diskursus seni posmodern, melainkan semakin meningkatnya percepatan sosial dan kebudayaan, sehingga ia berkembang ke arah titik melampaui sosial dan kebudayaan itu sendiri. Memang sifat-sifat modernitas seperti kemajuan, rasionalitas, dan universalitas sebenarnya belum berakhir. Dengan menyitir Jean Badrillard, semuanya berkembang ke arah hyper, yaitu kondisi ketika setiap sifat atau aktivitas sosial berkembang ke arah titik ekstrim, ke arah kondisi melampaui batas-batas alamiahnya. Wacana sosial dan kebudayaan sekarang menuju pada kondisi hipermodernitas (hypermodernity), yaitu kondisi ketika segala sesuatu bertumbuh lebih cepat, ketika tempo kehidupan menjadi semakin tinggi, ketika setiap wacana bertumbuh ke arah ekstrim. [12]

Yasraf menyatakan bahwa dalam millenium ketiga tersebut, terdapat realitas baru kebudayaan. Pertama, dari abad teknologi ke abad citraan; kedua, dari era mekanik ke era mikroelektronik; ketiga, dari realitas ke hiperealitas; keempat, dari order menuju chaos; dan kelima, dari space menuju hyperspace. Dalam membahas itu semua, Yasraf mengemukakan beberapa indikator untuk membahas kondisi tersebut; pertama, bahwa perkembangan sistem teknologi tampaknya akan terus berlanjut dan akan memengaruhi keputusan-keputusan estetik. Ia bahkan berkembang ke arah complex system bahkan ke arah chaos, bersamaan dengan itu akan tercipta pula semacam kompleksitas kebudayaan, baik dalam objek, teknologi, metodologi, dan idiom. Kedua, tekanan ekonomi pasar bebas telah merubah konsep manusia posmodern tentang waktu, diri, individu, keluarga, masyarakat, ruang, waktu, bangsa, dan negara. Ekonomi pasar bebas menuntut bahwa cara-cara fragmentasi budaya, kelenyapan batas, pastiche, kolase yang mencirikan posmodernisme tampaknya akan terus berlanjut pada abad ke-21. Namun, sekali lagi ia akan berhadapan dan dipengaruhi oleh batasan-batasan moral. Ketiga, tekanan moral menyangkut kemanusiaan dan lingkungan yang terus meningkat, termasuk tekanan-tekanan pada objek kebudayaan.[13] Pendapat Yasraf tersebut didahului oleh penalaran metafisis atas realitas.

Edi Subkhan, penulis...


[1] Baca lebih lengkap Karya Lengkap Driyarkara: Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya., suntingan A. Sudiarja, SJ, G, Budi Subanar, SJ, St. Sunardi, dan T. Sarkim, yang diterbitkan kerjasama Kanisius dengan penerbit Kompas dan Gramedia tahun 2006, hlm. 1177-1118.
[2] Penulis cenderung berpendapat bahwa arti dari metafisika bukanlah sesudah fisik melainkan di luar fisik, kata sesudah dalam diskursus filosofis lebih agaknya lebih dapat diwakili oleh kata pasca atau post. Dalam perkembangan diskursus teori-teori sosial misalnya dikenal konpsepsi posmodernisme sebagai lawan dari modernisme, posmodernisme dalam hal itu dimaknai sebagai setelah/sesudah modernisme dengan maknanya yang sangat bervariasi tergantung merujuk pada konsepsi posmodernisme siapa.
[3] Lebih lenmgkapnya dapat dibaca Louis O. Katsoff. 1996. Pengantar Filsafat. Terj. Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana, hlm. 74.
[4] Baca lebih lengkap Karya Lengkap Driyarkara: Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya., suntingan A. Sudiarja, SJ, G, Budi Subanar, SJ, St. Sunardi, dan T. Sarkim, yang diterbitkan kerjasama Kanisius dengan penerbit Kompas dan Gramedia tahun 2006, hlm. 1019-1020.
[5] Louis O. Katsoff., op cit.
[6] Ibid., hlm. 1255.
[7] Ibid., hlm. 1231-1232.
[8] Ibid., hlm. 108.
[9] Libeh lanjut silakan baca William R. Dennes. 1944. “The Categories pf Naturalism” dalam Y.H. Krikorian (ed.), Naturalism and the Human Spirit. New York: Columbia University Press, bab XII.
[10] Lebih lanjut silakan baca Alfred J. Ayer. 1936. Language, Truth and Logic. New York: Oxford University Press.
[11] Khusus mengenai asumsi dan peluang (kemungkinan) dijelaskan pada bahasan selanjutnya dalam paper ini.
[12] Lebih lengkapnya baca Yasraf Amir Piliang. 2004. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Yogyakarta: Jalasutra.
[13] Ibid., hlm. 261-269.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar